kumpulan beberapa puisi galau


Kenapa sih mesti ada kata galau?

Nggak apa-apa kok kalau kamu galau, jangan malu, atau jangan merasa kalau kamu galau kamu lebay. Hey sama sekali gak kok, galau itu pertanda kamu gak sedang mati rasa, nikmatin aja rasa kalau hatinya sedang galau, ntar kalau sudah waktunya lagi kamu akan fokus lagi kok. Kalau kamu lagi galau mimin saranin nih baca aja kumpulan puisi galaunya, biar galaunya memblundak gitu, mebanjir semacam banjiran larva gunung api, biar kalau sudah keluar semua perasaannya bakal lega dan pastinya capek, ya udah bisa fokus lagi hehehe.

“Dia Seperti Juli yang Dingin”
 
Juli yang dingin
Aku pikir,,,
Kau membawa sebuah harapan,
Akan datangnya kehangatan,
Kehangatan yang mencoba merayu tinta menyulam kata,
Memapah diksi menuai susastra,
Menyisir rasa yang pernah ku anggap mati,
Kini kembali dilebam memori,
 
Ah sudahlah....
Sejauh apapun harapan ku berkelana,
Dia masih saja seperti Juli yang dingin.
 
نر حفيفة
 
"Kediam Diaman" 
 
Masihkah kita mesti bicara,
Apa yang lebih menusuk dari kata,
Diam dan bunuh setiap lakoan,
Diamnya menghardik amarah,
Kebisuanku menikam dalam,
Lalu mematikannya perlahan.
 
Jika ingin masih lontarkan katamu ditelinga ku penuh racikan,
membeku setiap tanya dalam dada.
 
Hidup dari mimpi kelain ranjang,
Menunggu pintu terbuka lapang.
 
نر حفيفة
 
“Pasrah”
 
Demi malam yang kian mengfajar,
Aku berjanji akan menyerah,
Kepada angin,
Yang menyisir tepi pagi.
 
Disudut kamar aku akan terdiam,
Sesekali meraung hampa.
 
Dentuman detik,menit,jam berkejar kejaran untuk menang,
Bisingan kota tak lagi kudengar,
Hilang dibawa jelmaan hampa.
 
Yang membuat ku takut,
Pada bulan yang kian tenggelam,
Menyisihkan keheningan batin.
 
نر حفيفة
 
“Keresahan Hati”
 
Ketika mata berada di hitamnya malam,
sangat sulit dipejamkan.
Darah yang mengalir,
Bagai ombak menerjang batu karang.

Ketika logika dan perasaan tak sejalan,
Otak berputar hingga kesasar.

Ketika mulut tak mampu
Menyampaikan kejanggalan dalam diri,
Terasa kaku dan gemetar.

Ketika rasa tak mampu dirangkai oleh kata-kata,
Sangat rumit seperti ambigu.

Namun waktu tak berdusta,
Bagai anjing yang setia pada tuannya.
Waktu yang mampu menemani,
Bagaikan bahu yang dijadikan sebagai sandaran.

Hawa dingin di gelapnya malam,
Menusuk kalbu.
Angin yang berdendang serasa brisik mencengkam.
Keramaian kota tak lagi sama dikala itu.
Lampu- lampu jalan terasa horor.

Aku yang tak kuasa menjelaskan pada diri ini.
Oh apakah yang tengah aku hadapi?

Hati yang resah bergelora dalam  sukma,
Keresahan datang tanpa diundang,
Bagai hati yang tak bertuan.

Jikalau Rindu adalah jawabannya,
Sudikiranya sampaikan rindu ini pada tuannya.

       
نر حفيفة
 
@fafakhafifa

Baca puisi lainnya di Di sini

Comments

Popular posts from this blog

Mari jangan bertanya

Kumpulan Puisi HTS

Kumpulan Puisi Puisi Kesepian