Dear readers....
Tulisan ini bukan konsumsi publik, ini konsumsi pribadi penulis, Sedikit kisahnya begini
Penulis bertemu cintanya di 5 tahun lalu dan sekarang adalah tahun 2025. Pertemuan yang tidak disengaja, masih pakai baju hitam putih, namun wajahnya selalu terngiang-ngiang dikepala, diantara ratusan yang hadir wajahnya yang selalu teringat, dia tidak mencolok tapi entah mengapa wajahnya selalu terngiang dan tanpa sengaja lagi, kami bertemu kedua tiga empat kalinya lagi bahkan hampir sering, aku menganggap itu adalah takdir, perlahan rasa itu tumbuh dari rasa penasaran hingga rasa suka, kemudian jadi jatuh cinta,yah jatuh sejatuhnya.
Lagi-lagi takdir itu kembali mempermainkan, kami sekelas, lama dipendam ternyata membesar dan lebih sensitif dari ranjau yang siap meledak jika pemicunya datang. Untuk sekian kalinya takdir kembali mempermainkan dimana semesta memberikan waktu untuk kami saling dekat, dah yah terjadilah status yang manis, dan aku bilang lagi untuk sekian kalinya takdir itu kembali mempermainkan, kami berpisah di Juni. Sakit? jelas ia, trauma mungkin tidak. Cintaku masih besar seperti dulu, tapi aku belajar ikhlas dalam hidup, sebesar apa rasa cintaku maka sebesar itu juga rasa ikhlas yang mesti kupelajari. Poinnya hidup ini adalah perjalanan. Rasa sakit, cinta, takut dan harap adalah bunga yang menemani perjalanan kita. Untuknya yang jauh disana, yang sudah berbahagia dengan pilihan hatinya, aku masih berharap takdir itu kembali datang mempermainkan, selalu berharap benang merah dapat menemukan kami kembali, meskipun nanti semesta tidak berpihak aku akan tetap berdoa semoga dirinya selalu bahagia walau tak bersamaku.
Berikut syair-syair amatirnya
"Juni"
Malam di bulan Juni
Jika
Sapardi mengungkapkan hatinya
Menunggu hujan yang tak lagi turun di bulan Juni
Maka aku ingin menandinginya,
Aku Fafakhafifa mengungkapkan perasaanku di malam bulan Juni
Yang gelapnya membawa kehampaan besar
Gelapnya lebih bisa dipercaya menampung perasaan-perasaan yang tidak memiliki rumah.
Ia memiliki jutaan bintang, satu rembulan dan kesunyian yang paling sunyi
Aku kira malam di Juni kali ini aku selamat diantara kehirukpikukan isi kepala dan hati
Ternyata aku masih terjebak dalam kesunyian begitu dalam
Aku kira puisiku telah terkubur diantara sejuta kesibukkan dunia
Namun ternyata gelap di malam Juni ini
Mengingatkan aku bahwa
Tidak ada yang lebih tabah dari kesunyiaan di antara gelapnya malam
Cinta bersemayam dalam hitam malam
Menyimpan senyuman yang terkubur dalam kesedihan
Mengemasi cerita dalam sebuah warna yang berbalut perpisahan
Duhai Nabastala dan seluruh pendudukmu
Maaf aku menyapa keheninganmu
Tak ada niat hati membangunkan
Hanya saja...
Ada yang lebih pekat dalam diriku
Ketimbang kegelapan yang menyelimutimu
Yang harus kubasuh dengan air mataku
Aku masih disini
Merangkai harap yang pernah kita amini
Satu dua detik saja kiranya kau sudi mengaminkan
Pintu Nabastala terbuka
Bukan cuma doa,tapi seisi semesta akan menyapu ingatan bahwa kita sudah tak lagi bersama.
Ingin ku tulis puisi...
Masih tentang luka dan sepi
Namun sajakpun masih cuti
Dan aksaraku menyapa sekilas
"Hai...
kau kenapa?" sapanya
"Biasa saja" balasku
"Mengapa kau selalu temui nestapa?" ujarnya lagi
"Gabut semata" jawabku pelan
"Bohong!!!...
kau kecewa" tepisnya
Aku bungkam seribu kata
"Mengapa?" tanyanya lagi
"asmara ya... kamu tersiksa karenanya" tambahnya lagi
Hening....
Hmmm...
Meski kecewa aku takan mengutuknya
Meski terluka, aku takan menyeranahinya.
Dia tak perlu datang menawarkan sebuket maaf.
Malam sudah cukup mewakilinya
Menampung doaku untuk kebahagiaanya
Barangkali selama ini
Aku terlalu percaya diri dengan rasa yang ada
Hingga lupa bahwa garis takdir berada dalam genggaman Tuhan...
Aksaraku kembali berceloteh
"Kau kerap kecewa, kemudian nanti terbiasa
Maka terbentuknya otot jiwa yang perkasa
Ketiadaan yang di damba, kenihilan yang di cinta,
Akan menjadi suatu kelumrahan teramat biasa" katanya.
Sungguh diujung sana rasa harap dia kembali masih tersedia
Aku disini dan tetap menunggu hingga takdir datang mengubahnya segalanya.
Comments