Puisi tentang Orang Tua
"Ayah"
Sementara rindu
Kubiarkan meronta di dasar hati
Walau kadang tak tenang dalam penantian
Kuingin temukan
Kebahagiaan dengan selalu bersamamu
Tanpa pernah bincangkan kata jauh
Namun makna cinta telah mengajarkan aku
Untuk berlapang dada
Maka jauh darimu adalah bentuk dari cinta
"Mama"
Ma...
Sosok dirimu selalu terngiang dalam bayang
Rasa sayang bagaikan cahaya yang begitu terang
Sebagai penerang dalam jalan yang begitu panjang
Senyummu begitu nyaman di hati penuh arti
Engkau bagai malaikat yang memberi tanpa harap
Menghadirkan hangat yang ingin selalu ku dekap
Kaulah semesta hatiku
Terima kasih pada peluh
Dan sayangmu yang abadi
Pada semangat dan kasihmu yang sejati
Ma...
Dunia pertama ku ialah rahimmu
Membungkus penuh rindu
Diri ini bermula dari ketiadaan
Hingga dapat melihat sebuah keindahan
Semua karunia serta ujian
Adalah berkah dari Tuhan
"Ulang Tahun"
Tangis pertamamu pecah
Kecemasan enyah
Azan pertama berkumandang
"Aku hambamu"
Ucapmu yang belum bisa berkata apapun
"Selamat datang"
Ucap seluruh alam
"Dimana aku?"
Tanyamu lagi
"Kau di medan perang"
Dan kau kembali menangis di hari kelahiranmu
Ingatan itu melebam di memori ayah ibumu
Lalu sekarang
Kau rela bercerai dengan rumah
Menukar kemenangan dengan kematian
Mengubur ketakutan di atas impian
Berawal dari kelahiran
Lalu tumbuh bermetamorfosa
Kemudian disini kau berada pada fase pencarian dan perjuangan
Tentang getir manisnya asa
Hingga pada saat kematangan tiba
Kau telah benar benar siap menghadapkannya
_20 Maret 2022
Adakah yang sehebat Mama?
Dalam getar kecewanya ia masih menyimpan doa
Lalu siapa yang lebih tegar daripada Bapak?
Pahit dan getir kehidupan dilaluinya dengan tabah
Yang ikhlas hanyalah Mama,
Tak pernah menghitung kasih sayang yang ia berikan untukku.
Yang Kuat hanyalah Bapak,
Tak pernah merasa lelah walaupun untuk berjalan kakinya terasa tak menyentuh tanah.
Bila nasihat Bapak tidak membangkitkan semangatku
Maka air mata Mama akan membakar kesadaranku.
Kubendung air mata menjadi buku
Kusimpan rinduku dalam puisi puisi sederhana
Kubaca kesedihan dengan harapan, agar kita bertemu nantinya.
Bapak ajariku bagaimana menyemai harapan
Dan Mama tuntunlah aku dengan setangkup doa yang engkau langitkan
Agar Tuah bumi mendengarkan_08 Juni 2022
@fafakhafifa
Comments