Literasi Drama Kehidupan

    Masa semester tua adalah masa yang sangat mengguncangkan. Bukan karena lelah fisiknya, tapi karena lelah batin dan mentalnya yang jatuh bangun. 
    Selalu ada waktunya:
    _Memikirkan mahluk yang diciptakan tuhan berupa laki-laki, yang selalu tidak mau mengerti, dan mahluk yang datang bersinggah hanya sementara waktu yang  mana seperti jelangkung, datang tanpa di undang dan pergi tanpa pamit.
    _Memikirkan tugas akhir, dibuat pusing dan lelah oleh dosen pembimbing.
    _Memikirkan setelah lulus, kemana harus melangkah?
    _Bagaimana harus mendapatkan apa yang diinginkan?
    Ingin  memilih berdiam diri  menikmati hidup dan menunggu jalan yang diberikan Tuhan, Itu sangat tidak memungkinkan. Ada banyak utang dan tuntutan di belakang.
 
    Kala malam kian melarut, pikiran semakin boros mengalir, 
Detak jarum jam dan jantung saling memaduh, seakan keduannya tidak ingin mengalah, 
Desir darah semakin memuncrat, 
Mental semakin terguncang.
Seresa raga ini tidak berkuasa atas jiwa, semua diluar kendali.
 
    Mereka bilang; jangan terlalu dipikirkan!
    Bagaimana bisa?
Semua diluar kendali, pikiran sudah tak bertuan.
 
    Hingga suatu hari aku bertemu dengan salah satu mahluk Tuhan berupa laki-laki, dia terlihat polos namun cukup dewasa. Aku kagum dengan kepribadian dan gaya bicaranya.
Kekaguman itu membawaku untuk mengumpulkan niat berkenalan dengannya, aku memperkenalkan namaku dan diapun melakukan hal yang sama.
    Setiap hari selalu berpapasan, tidak ada percakapan di antara kami, hanya saling melemparkan senyum sebagai pertanda kami berteman.
Singkat cerita, aku disibukkan oleh pikiranku, dan setiap berpapasan dengannya tidak ada lagi senyuman yang terbit dari bibirku.
    Ketika dia yang memulai senyum, aku hanya membalas ala kadarnya, garis bibirku tidak lagi panjang saat senyum, gigi rapiku tidak lagi muncul di balik  dua buah bibir seperti yang berkesudahan.  Dan ternyata itu membuat dia resah, merasakan ada yang aneh dengan diriku dan mungkin dia sempat berpikir kesalahan apa yang dia lakukan terhadapku sehingga membuat aku berubah.

    Rasa ingin tahunya itu memberanikan dia memulai percakapan, dia tidak banyak basa-basi langsung ke intinya; "Kenapa?" katanya.
Aku dibuat kaget karena dia baru bersuara kembali setelah sesi perkenalan dulunya.
"Apannya?" kataku seadanya.
"Yaa kenapa gak senyum lagi, dan kenapa senyumnya nggak seperti sebelumnya pas aku senyumin duluan?" katanya dengan satu tarikan nafas.
 
    Aku manarik nafas pelan, ternyata itu yang membuat ia risauh.
"Lagi nggak baik-baik aja" kataku
"Aku hanya sedang kepikiran; kapan aku menikmati hidup ini dengan aman dan damai? 
Saat tidur kah?
Saat bersantai kah?
Saat lagi nggak banyak pekerjaan?
Atau mungkin saat liburan?. Sambungku lagi.
 
Dan itu di jawab olehnya, katanya; "Saat kita menjalaninya dengan perasaan ikhlas dan bersyukur."
Jawabnya sederhana dan agak klise.
Aku terdiam, dan bertanya pada diri sendiri; sudah bersyukurkah aku?.
Tentu aku akan menjawab iya, aku selalu bersyukur, namun tetap saja aku tidak merasakan nikmatnya.
 
    Kediamanku ternyata membuatnya menunggu aku bersuara kembali. Sesekali dia menarik nafas panjang kemudian kembali bersuara; 
"Keegoisan dan ambisimu, mempengaruhi sehingga kamu tidak menikmatinya."  Kata yang dia ucap seakan mengerti isi pikiranku.
 
Lagi-lagi aku kembali terdiam;
Benarkah begitu?
Jika aku tidak egois bagaimana aku bisa bertahan di dunia yang fana ini?
Bagaimana aku bisa melihat kebahagian yang terlukis dan senyuman yang terukir di wajah mereka yang telah berkorban untukku?
Bagaimana aku bisa tenang, sementara mereka hilir-mudik meraung sesuap nasi, berkorban dan mempertaruhkan martabat diri mereka untuk sekedar menyanggupi kehidupanku?
 
Sungguh aku tidak tau diri, pura-pura tidak mengerti kedaan mereka, pura-pura semuannya terlihat baik.

Bagaimana tidak seambius ini?
Bagaimana tidak seegois ini?
Sementara hidup terus saja menguji kesabaran.
 
Dan kediamanku membuatnya merasa bosan, lalu ia pergi meninggalkanku  seorang diri dengan pikiran yang berkecamuk.
 
Kalimantan, 23 Agustus 2022
 
@fafakhafifa

Comments

Popular posts from this blog

Mari jangan bertanya

Kumpulan Puisi HTS

Kumpulan Puisi Puisi Kesepian