Tak Berjudul
BAGIAN 1
Mari duduklah disini, izinkan aku untuk menceritakan kisah ini dan kubiarkan dirimu untuk tidak bertanya apapun
Sebuah kisah tidak mesti dimulai pada suatu hari atau pada zaman dulu. Aku menulis ini di akhirnya tahun 2025 dan mungkin di publish di tahun 2026, kisah bermula lima tahun yang lalu, 2019. Tahun dimana aku sudah lulus Sekolah Menengah Atas sekaligus tahun pertama aku masuk Kuliah. Aku menempuh pendidikan Tinggiku di salah satu pulau Jawa, kota yang dikenal kota pelajar yaitu Yogyakarta. Kalau kamu pernah dengar kata-kata "Jangan pernah jatuh cinta di Jogja, nanti Sakit" atau "Jogja dikenal setiap sudutnya yang romantis namun hanya bersifat semu" yah, itu betul sekali. Aku adalah saksi bisu dari kata-kata tersebut. Lima tahun lalu aku jatuh cinta dengan seseorang, sebut saja namanya "Dita".
Biarkan aku cerita tentang dia dan kuizinkan dirimu untuk tidak bertanya
Si Dita ini adalah pria yang berprawakan lumayan tinggi dari aku, kulit putih dan berambut lurus. Seandainya aku bilang ia ganteng barangkali ada yang setuju atau tidak setuju atau mungkin ada yang penasaran seperti apa rupanya, hehehe. Ganteng tergantung mata memandang ya, dan menurutku dia tidak jelek-jelek amat. Pembawaan dirinya cukup kalem, cuek dingin bahkan tidak berperasaan, hahaha tapi namanya aku yang sudah terlanjur jatuh cinta so far so good. Kelebihannya selalu membuat aku bangga bahwasannya aku tidak terlalu buruk karena telah menyukainya dan semua kekurangannya aku selalu maklumi, yah namanya juga sedang jatuh cinta.
Sekilas perjalananku bertemu dengannya sampai akhirnya jatuh cinta
Kami satu perguruang tinggi, pertama kalinya aku melihat dia di depan kampus pada siang hari, dia tidak melihatku tapi aku memperhatikannya di beberapa menit, pertemuan pertama itu membuat aku penasaran akan dirinya, tapi aku tidak cukup punya alasan untuk sekedar menyapanya lebih dulu atau sekedar melihatnya dalam jarak yang begitu dekat. Hari berlalu aku kembali melihatnya tapi sepertinya ia tidak begitu memperhatikanku atau melihatku. Takdir datang mempermainkan, aku selalu melihatnya entah disiang atau malam harinya. Polanya masih sama dia tidak melihatku hanya aku saja yang memperhatikannya.
Disadari atau tidak olehnya, namun sepertinya memang dia tidak menyadarinya, pernah suatu waktu aku kembali melihatnya di lapangan kampus, kami sama-sama dikumpulkan oleh senior, aku melihatnya lebih dulu, aku terus saja melihatnya sampai dia sekilas melihat kearah barisanku, mungkin ia memperhatikan yang lain, namun aku cukup percaya diri saat itu untuk memberinya senyum lebih dahulu, ternyata dia tidak melihatku tersenyum kepadanya, aku kembali kecewa, sepertinya memang aku tidak ditakdirkan untuk berkenalan dengannya, dengan lesu aku berjalan kearah ruang kuliah umum, ruangan dimana semua Taruna dan Taruni baru di kumpulkan lagi untuk diberi materi kepemimpinan, ditengah kelesuanku wahh takdir itu kembali mempermainkan dia ternyata duduk sejajar di baris sampingku, aku kembali melihatnya, senyumnya yang amatir terkesan gugup ku perhatikan, entah dia tipikal orang yang jarang senyum atau dia yang hanya tidak ingin senyum saat itu. sekali lagi kukatakan dia tidak buruk rupa atau dia sangat ganteng dari orang-orang yang ada saat itu, tapi entah mengapa mataku terbuka seolah-olah hanya untuk melihat dia. Eakssss
Lanjut...
Masa orientasi di kampus selesai, saatnya untuk lanjut pembekalan di tempat paskas TNI AU yang berada cukup jauh dari area kampus, disana kami calon Taruna-Taruni baru disuruh merayap di tanah lapangan yang sangat besar, dari ujung-keujung, setelah dilakukan setengahnya kami diaba-aba untuk ganti posisi ngerayap yaitu dengan tidur terlentang, baru saja aku merosop beberapa langkah, aku sudah tidak sanggup melakukannya, Senior yang melihatku berhenti disaat semua orang melalukan gerak cepat untuk segera sampai di finish,
" hei Taruni kenapa kamu berhenti, cepat lakukan dengan cepat!" perintahnya, aku yang benar-benar sudah tidak sanggup melanjutkan seketika menutup mata berharap aku bangun sudah ada di dalam ruangan, ahhh tapi sebuah ingatan merancau usahaku, ingatan itu memperlihatkan senyum payahnya Dita yang aku lihat sebelumnya, aku kembali tertawa dan tidak kerasa otakku menggerakkan tubuhku untuk sampai di finish.
Salama masa orientasi 3 hari 2 malam, dulu masa orientasi itu kami sebutnya PDK (Pekan Disiplin dan Kepemimpinan), selama kegiatan itu aku tidak lagi melihatnya, entah karena aku yang terlalu lelah melihat sekitar atau memang dia saat itu tidak ada, setelah masa orientasi selesai kami kembali keruang kuliah umum, lagi-lagi aku tidak lagi melihatnya, aku pikir mungkin emang kisahnya sampai disitu saja.
Comments