Tak Berjudul

 BAGIAN 2

Saat itu aku sudah memutuskan untuk tidak lagi mengingatnya dan aku kembali seperti diawal aku tidak melihat dia,  rupanya itu berhasil aku tidak lagi mengingatnya. Ingatanku tentang dia yang sekilas seolah hilang ditelan waktu.

Hingga tibalah pembagian kelas, entah mengapa saat itu aku lupa proses sampai aku punya dan join ke group kelas, info ruangan dan perkuliahan lewat group tersebut. Keesokan harinya aku masuk ke salah satu ruangan yang kuyakini itu adalah ruang kelas yang di infokan di group, yapp aku masuk sambil meyakinkan diri ini benar ruangannya, aku menuju ke kursi yang kosong, pelan-pelan kulangkahi kakiku dan seketika mataku tertuju ke sudut belakang ada 1 orang yang tak kusangka, siapakah dia? wahhhh untuk sekian kalinya aku katakan takdir kembali mempermainkan, kami sekelas ternyata. Disitu aku  baru tau namanya hehehe.

Aku tidak punya keberanian mendekatinya lebih dulu,egoku untuk merendahkan diriku saat itu belum cukup jinak untuk aku kendalikan, melihat dia dari jarak yang dekat itu sudah membuatku bahagia, aku selalu tidak ingin perkuliahan selesai dengan cepat, dan jika satu hari sudah usai malamnya aku ingin segera berlalu agar aku bisa masuk kelas. Jangan tanya bagaimana hari-harinya dikelas, aku selalu suka nyuri-nyuri pandang dan sifatnya yang dingin dan cuek itu membuatku bukan hanya penasaran tapi sangat-sangat jatuh cinta hahaha. Entah mengapa aku tidak tau alasanku secara spesifik kenapa aku mengklaim aku sedang jatuh cinta, yang kurasa saat itu adalah mataku hanya ingin melihat dia terus dan aku penasaran kemudian secara tidak sadar ada perasaan-perasaan suka, cemburu dan rasa-rasa yang alay lainnya. Iyuuue

Jika kamu bertanya bagaimana rasanya sekelas dengan orang yang kita sukai?

Jawabanku adalah bercampur aduk, aku bingung menjabarkan rasa itu. Hampir empat tahun lamanya sekelas aku masih belum nyangka kakiku berdiri di atas tanah, kurang lebih seperti itu ya. Eitss tapi yang pasti ada beberapa bagian-bagian yang masih ku ingat jelas, sekelas dengannya aku selalu merasa gugup, aku tidak tenang jika sewaktu-waktu aku menjawab pertanyaan dari Dosen, aku cenderung juga merasa canggung jika sedang presentasi hanya karena aku takut melakukan suatu kesalahan yang membuat ia tidak nyaman denganku, aku juga jarang fokus di kelas karena yang menjadi prioritasku adalah memperhatikan dia dan berharap diperhatikan olehnya, nilai dan tugas dosen menjadi point berikutnya. Tapi aku mengakui diriku sendiri, bahwa aku cukup pintar menyembunyikan perasaanku, teman-teman sekelas tidak ada yang tahu dan tidak ada yang menyadarinya. 

Empat tahun lamanya aku selalu berperang dengan isi kepala dan perasaanku, aku ingin fokus belajar tapi ada dia, pun mau lebih dekat sama dia, tapi dia cuek aku juga tidak ingin memulai duluan untuk sekedar komunikasi, sangat cinta tapi tidak ingin terlihat jatuh cinta, gimana sih maksudnya, ya pokoknya seperti itulah. Empat tahun itu aku merasa seperti manusia yang tidak berpendirian, tidak berprinsip dan mungkin tidak ada moto hidup, aku seperti mengikuti arus, pagi bangun lalu ikuti apa yang terjadi saat itu malamnya tidur dan keosokannya kembali mengulangi hal yang sama. 

Aku juga masih ingat, dulu cukup licik selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan hahaha, semisal ada tugas kelompok aku selalu ingin satu kelompok dengannya, sekali lagi kukatakan aku tidak punya nyali yang cukup untuk mengikuti semua keinginan hatiku, namun jika semesta sedang berpihak padaku maka  jadilah kami satu kelompok aku sangat-sangat bersyukur dan senang, semester 1 dulu kami pernah satu kelompok, kami sepakat untuk kumpul disebuah kos-kosan, tempat itu biasa disebut kostrat, saat itu aku cukup berani untuk mengikuti kata hatiku, aku bohongin teman-teman kelompok bahwa aku tidak tahu tempatnya dan bisakah aku dijemput, takdir berpihak padaku saat itu seakan akan semesta menyetujui kepicikannku salah satu teman kelompok namanya Mail menyarankan agar aku dijemput oleh Dita, hahahaha. Untuk pertama kalinya aku dibonceng olehnya aku masih belum sepenuhnya menyadari bahwa aku dibonceng olehnya, diperjalanan tidak ada obrolan, dia orangnya dingin aku juga tidak ingin memulai duluan, tapi tenggorokanku seakan gatal ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam pita suaraku, untuk sekian detik aku memberanikan diri untuk memulai obrolan, kalimat yang kuucapkan adalah " apakah yang lain sudah disana semua?" 

jawaban singkatnya " iya" membuatku meradang ingin sekali aku menonjok kepalanya dari belakang, tapi sangat tidak mungkin, setelah sampai aku tidak mengucapkan terimakasih karena aku masih sangat dongkol dan pada akhirnya aku tidak mood untuk mengerjakan tugasnya, singkatnya kami pun sepakat untuk bagi per bagian untuk dikerjakan di tempat tinggal masing-masing. 

Hari pun berlalu, begitu pun tahun, tidak ada kemajuan antara aku dengan Dita, aku tidak ada usaha untuk mendekatinya lebih dulu, aku tipikal orang yang sangat gengsi memulai duluan, seperti yang kuperhatikan juga aku tidak cukup menarik dimatanya. Sebesar apa pun rasa tertarikku padanya belum mampu mengkikis egoku, kubiarkan takdir yang bekerja sebagaimana mestinya. Bukan tidak ingin bereffort namun aku punya kekhawatir besar akan sebuah penolakan, padahal kalau di pikir-pikir dengan logis penolakan adalah bukti dari setiap usaha, semakin banyak penolakan yang di terima maka usaha kita dinilai semakin besar dan selangkah lebih dekat dengan kata kesuksessan, namun egoku cukup mendominasi saat itu. Aku juga masih punya pemikiran kuno dimana laki-laki yang harus mengejar, perempuan yang lebih dulu mengungkapkan isi hatinya masih di anggap tabu oleh pikiranku. 

Demikianlah aku, kubiarkan perasaan itu tumbuh tanpa harus kurawat, aku pikir perasaan itu hanya perasaan singkat yang nantinya bisa pergi kapan saja dia mau, namun faktanya aku terjebak dengan pikiran-pikiranku sendiri, bukannya pergi perasaan itu malah semakin tumbuh, membesar dan membuatku kesulitan memahaminya, aku seperti terjebak dalam sebuah labirin yang tak kunjung menemukan pintu keluar.

Isi kepala dan perasaanku tak lagi sejalan sejak saat itu, kepalaku ingin menyudahinya semua kesemuan itu tapi hati seakan menolak keras untuk menyudahinya, sejak saat itu juga ragaku tidak lagi kupahami tentang apa saja keinginan dan tidak diinginkan, aku seperti kehilangan tatanan kestabilan dalam diriku, mengalir dan mencoba untuk mengikuti kemana arus membawa.

 

Comments

Popular posts from this blog

Mari jangan bertanya

Kumpulan Puisi HTS

Kumpulan Puisi Puisi Kesepian