Cerita fiksi Permainan Takdir 1
Bagian 1
Suasana desa yang cukup ramai akan kegiatan para petani. Kicauan burung menjadi melodi pelengkap ditengah aktivitas masyarakat. Kala itu langit yang bersahabat dengan bumi menjadi saksi bisu rutinitas masyarakat desa tersebut. Angin spoi-spoi menerbangkan rambut lurus tampa ikat, memberikan rasa kenyaman dan kedamaian dalam hati seorang gadis desa, seorang gadis desa yang begitu sempurna rupanya didepan semua orang. Inginnya semua orang menjadi seperti dia bahkan ada yang menginginkannya untuk dijadikan milik mereka. Namun berbeda dengan apa yang dirasakan oleh gadis tersebut, kenyataan hidup mengenai masalah ekonomi yang tak memenuhi kebutuhan hidupnya menjadi sesuatu yang selalu membuat suasana hatinya khawatir dan terasa belum lengkap hidupnya. Sebagian besar orang mungkin berpegang pada prinsip uang bukan segalanya,hidup yang sederhana namun bahagia itu kunci utama. namun tanpa uang juga tak membuat bahagia, itu akan menjadi suatu persoalan yang terus dipikirkan hingga kita tidak tenang dengan hidup kita sendiri. Seperti itulah yang dirasakan oleh seorang gadis desa tersebut. Seorang gadis yang beparas cantik berasal dari keluarga yang jauh dari kata berkecukupan, gadis itu tinggal dengan ayah dan ibunya beserta dua orang adiknya Arman dan Marfel yang masih kecil, ayahnya yang bernama Martin bekerja jadi buruh petani dan juga Mira ibunya, demikian penghasilan yang didapat benar-benar hanya untuk biaya makan mereka sehari-hari. Membuat gadis tersebut harus rela bekerja sampingan untuk membantu ekonomi keluarga.
Gadis tersebut berusia 16 tahun dan dia
menempuh sekolah menengah atas kelas tiga di desa sebelah. Dia bersekolah bermodalkan
kepintaran yang dia miliki. Beasiswa yang menjadi tunjangan pendidikannya, selain
pintar kecantikan yang dimilikinya pun tak kalah saing hingga masyarakat desa
memberikan julukan untuknya yaitu bunga desa.
Usai pulang sekolah dia bekerja di sebuah kafe, penghasilannya lumayan hitung-hitung membantu ekonomi
keluarganya. Kesederhanaan
dan keramah-tamanya menjadi nilai plus untuk kesempurnaan hidupnya, Armita yang
biasa disapa Mita tersebut memiliki seorang sahabat bernama Tiara, Tiara yang tergolong keluarga yang
cukup mampu namun karena kemurahan hatinya ia tidak memilih dalam berteman. Dia
dan Mita berteman baik dari awal masuk SMA, Tiara yang melihat sosok Mita seperti
mendiang ibunya hingga ia
penasaran dan ingin lebih dalam mengenal Mita.
Dimulai dari awal masuk sekolah Tiara
dan Mita selalu bersama dan mengambil jurusan yang sama pula, selain itu juga mereka
sekelas. selama bersahabat dengan Tiara, Mita tidak pernah menceritakan perihal
keluarga atau pun kehidupannya
dan dia juga enggan menanyakan keluarga dari sahabatnya itu.Tiara pun juga
sebaliknya dia tidak mengetahui bahwa
Mita bekerja pulang sekolah.
Suatu hari Tiara mengetahui sendiri
kalau Mita bekerja di sebuah kafe dekat sekolahnya, karna secara kebetulan saat
itu Tiara menunggu jemputan sopir pribadi keluarganya di kafe tempat Mita
bekerja.
“ Permisi mbak saya pesan es kapucino
satu” kata Tiara kepada pelayanan kafe
“ siap mbak, bentar lagi akan saya
antar” dengan tidak melihat pelanggannya
Tiara yang merasa ada yang aneh dan serasa
kenal dengan suara pelayan kafe tersebut langsung menghampirinya
“ Mitha” kata Tiara
Mita langsung menoleh ke suara yang
menyebutkan namanya
“ Ehhh Tiara jadi tadi kamu yang pesan
esnya” ujar Mita
“ iya Mit, kamu kenapa tidak pernah
kasih tau kalau kamu bekerja disini?”
“ kamu tidak tanya ko Ra, makanya aku
tidak bilang heheh” jawab Mita yang sambil cengengesan
“ Huuu dasar
emangnya harus bangat ya ditanya in dulu” timpal Tiara
“ iyalah Ra kalau kamu mau tahu,
ayo duduk di kursimu lagi biar aku yang
antar pesananmu nanti” Mita
“ ok de sambil kamu nemanin aku minum
nanti ya” Tiara
(Langsung kembali ke tempatnya tadi)
Tidak lama pesanan Tiara diantar oleh
Mita
“ ini mbak silahkan dinikmati” dengan menarikkan
kursi depan Tiara serta memamerkan
senyum terbaiknya untuk sahabatnya itu
“terima kasih mbak” ujar Tiara
“Eh Mit kamu sudah lama kerja di sini ?”
tanyanya lagi
“ Iya Ra aku sudah lumayan lama hampir
enam tahunanlah”
“Whatt,,,,
berarti semenjak lulus SD kamu sudah
bekerja di sini?”
Dengan suara yang keras
“ Apasi Ra kamu ngomong kaya mau ngajak
berantem tau nggak” Mitha
“ nggak Mit aku cuma tidak nyangka saja
masih kecil kamu sudah mandiri, aku salut sama kamu Mit sumpah,,, benaran de” tiara
“Kamu mau sendiri kerja apa keluargamu
yang suruh” tanya Tiara
“ aku mau sendiri Ra, ya hitung-hitung
bantu ekonomi keluarga, kamu kan tahu aku sekolah modal beasiswa Ra” mitha
“Iya si Mit aku bangga punya sahabat
kaya kamu”
“ Kalo kamu ada masalah atau butuh
bantuan bilang saja ya sama aku, ngga usah segan aku sahabat kamu dan selalu
ada buat kamu Mit” sambil pegang tangan Mita
“dan ingat jangan tunggu ditanya dulu
kaya tadi” dengan ngetok dahinya Mita
“ iya sobatku yang terbaik
ter,,,ter,,,terrrrrrlaahhhhh, makasih banyak ya” Mita
Disela sela mereka berbincang tiba-tiba
handphonenya Tiara berbunyi ternyata jemputannya sudah sampai
“Mit makasi ya minumannya dan ini
bayarannya
Aku harus pulang sekarang jemputanku
sudah datang, sampai ketemu besok ya” dengan memeluk sahabatnya
“ Iya Ra, aku yang harus terima kasih
sudah mau pesan minuman di sini, hati-hati di jalan ya”
“ dah,,, dah” dengan melambaikan tangan ke sahabatnya
@fafakhafifa
Comments