Literasi~KELAM 2
Keretakan dalam sebuah hubungan, di sebabkan oleh hal yang sepele. Terciptanya ketidak nyamanan, kurangnya kepercayaan, sampai tidak akur sekali pun hanya karena hal yang sepele antara sepasang kekasih/pasutri.
Kita mungkin bertanya karena ketidaksadaran kita, kenapa sih bisa berakhir kaya gini, kayak gitu, kenapa bisa putus dan sebagainyalah?
Apasih hal yang sepele itu?
Laki-laki yang tingkat keposesifannya tinggi, cemburuan dengan pasangannya
Kemudian dianggap berlebihan bahkan tidak nyaman bagi seorang perempuan.
Dan perempuan yang selalu ngepost gambar cowoknya di media sosial, sampai si cowok merasa risih karena di anggap alay.
Terkadang perempuan juga ngambekan jika si cowok tidak melakukan hal yang sama seperti ia lakukan (post gambar dirinya), nah dari situ akan muncul rasa kecurigaan yang mendominasi pada dirinya.
Sebagian orang dalam sepasang kekasih/pasutri mungkin sadar tapi tidak mau di anggap pelaku, selalu beranggapan dirinyalah korban, tidak ada yang mau mengalah/saling mengerti.
Padahal masalah sepele itu bisa di selesaikan bilamana keduanya sama-sama mengerti konsepnya dan mau mengalah, sama-sama mengakui bahwasanya dua orang dalam sebuah hubungan itu saling membutuhkan dan melengkapi. Berhenti menganggap diri sendiri sebagai korban dan yang lainnya pelaku.
Aku pengen share satu kutipan buku yang pernah aku baca, bukunya milik Eyang Buya Hamka,
Kurang lebih kutipannya begini;
"...Laki-laki bilamana telah menentukan cintanya untuk seorang perempuan, maka perempuan itu mesti menjadi haknya seorang. Tidak boleh orang lain hendak ikut berkongsi dengan dia. Jika perempuan itu cantik, maka kecantikannya hanya boleh diketauhi olehnya seorang. Jika suara perempuan itu indah,lembut maka dia seorang yang berhak mendengarnya.
Sementara pada pandangan perempuan adalah laksana dukuh emas yang terkalung di lehernya, atau gelang bertahta berlian yang melilit tangannya. Perhiasan yang akan di banga-banggakannya kepada siapapun, kawan sesamanya..."
Nah jadi gimana? kurang lebih kutipan itu sudah sangat jelas maksudnyakan?
Jadi bagi perempuan yang ngambekan karena fotonya tidak di pamerkan oleh pasangannya, dan si cowok yang keposesifan dengan si cewe itu hal yang lumrah, jangan dijadikan permasalahan dalam sebuah hubungan perihal keduannya.
Jangan saling menyalahkan satu sama yang lainnya, mari sama-sama sadarkan posisi kita sebagai perempuan ataupun laki-laki.
Pena2021
Di antara kalian ada nggak sih tipe orang yang mudah jatuh cinta dan susah bangat untuk move on?
Okay saya adalah salah satu dari sekian mahluk seperti itu. Bahkan lebih parahnya lagi ada yang jatuh cinta tanpa harus ketemu terlebih dahulu.
Orang yang biasa saja mungkin menganggapnya itu bukan cinta melainkan obsesi sesaat, itu hanya karena dominan rasa penasaran saja sehingga menganggapnya cinta. Namun bagi yang pernah ngerasain gimana berjuang sendiri di tengah dunia virtual, dimana harus bersabar, mengalah, pura-pura baik-baik saja di tengah lingkungan yang minoritasnya long distance relationship/ yang baru membangun sebuah komunikasi secara virtual.
Orang yang ngerasain ini sangat sadar dan masih dapat membedakan yang mana namanya cinta, dan mana yang namanya obsesi.
Karena sejatinya indah jatuh cinta, diri kita sendiri yang merasakannya. Bukan orang lain
Apapun dan bagaimanapun kita menceritakan perasaan kita sama mereka, mereka tidak akan mengerti.
Kembalinya pada diri sendiri. Ya hanya kita yang tau.
Namun jatuh cinta tak seindah yang dibayangkan, terkadang rasa sakit yang kita dapat, harus mengikhlaskan yang kita lakukan. Sampai kita harus merasakan keterpurukan dahulu ketika kita mencintai tapi tidak di cintai, itulah kodisi kritisnya cinta dalam hubungan yang sepihak.
Kamu salah satu orang orang yang setuju nggak sih, bahwasannya cinta itu sebuah "Keterpaksaan"?. Dimana kita harus terpaksa mengikhlaskan di saat kita lagi sayang-sayangnya. Entah apapun alasan di balik keikhlasan itu.
Sadar nggak sih, kita jahat bangat sama diri sendiri? Kita menyakiti dan memaksa diri dan hati kita.
Rasa sakit itu bukan orang lain yang memberikannya kepada kita, tapi diri kitalah yang melakukannya.
Ada banyak keinginan serta halu yang kita ciptakan dan ketika tidak kesampaian/ yang kita dapatkan tidak sesuai keinginan maka saat itulah kita merasakan sakit.
Rasa sakit yang kamu rasakan terhadap sesuatu sesugguhnya rasa sakit yang kamu sendiri ciptakan. Berharaplah hanya kepada Tuhan semata, jangan berharap sesama manusia.
Pena2021
@fafakhafifa
Comments