Puisi__1
"Bingung"
Riak riak kegelisahan mulai lagi
Hari ini makin kuat
Mencoba menerka penyebabnya
Namun bertemu kebuntuan
Aku lunglai dan bingung
Mencari cara mengakhiri kegundahan
Tetiba petir bergetar menggelegar
Aku pun teringat hati
Yang terlalu merisaukan dunia
Aku terdiam dan menangis dalam diam
"Saya"
Saya kenapa?
Mengaum dalam sendu
Merintih dalam diam
Tidak tahu saya di mana
Mengapa saya ada
Saya kenapa?
Tidak mengerti engkau siapa
Mengapa engkau berada
Sendu dalam memanggil
Diam saat bertemu
Realitas virtual
Dunia dalam angka
Layar tak bernama
“Bersyukur”
Kala senja menyampa sore
Malam ngintip dibalik awan
Mentari yang tersenyum bangga
Karena memenangkan durasi yang lama
Dari keduanya
Awan yang sekedar menyaksikan
Tersenyum ramah tama
Berlomba lomba mengejarkan waktu di dunia
Jangan disombongkan
Toh sudah sesuai di posisi masing masing
Planet dan galaxy berputar sesuai strategi sang khalik
Berdamai dan bersyukur adalah nikmat yang tiada tara
“Mimpi”
Ketika sang musafir bermimpi
Bagaimana merubah pandangannya?
Dengan bermodalkan tekat dan doa
Dia mencoba merubah pandangannya tentang dunia
Bahwasanya dunia bukan hanya kata kata semata
Bukan pula hanya syair semata
Dan bukan pula sajak sajak yang dirangkai seindah mungkin
Namun dunia tentang bagaimana cara seseorang bertahan hidup dan bergerak luas
didalamnya
Dari itu sang musafir
Berlabuh ke salah satu pulau terbesar di Indonesia katanya
Pergi jauh dari rumah
dan keluarganya
Dengan meninggalkan
sebait sajak terbaik yang pernah ia rangkai
“secukupnya”
Air berkeruh tak
selamanya terasa hambar
Air laut tak selamanya
terasa asin
Parfum yang engkau
pakai pun tak selamanya terasa harum
Kenangan yang engkau
miliki sekalipun tak selamanya pahit dan manis
Jangalah engkau
tenggelam dalam alurnya
Karna nanti bisa diterjan oleh arus
Janganlah risau sesuatu
yang engkau alami
Bersyukur dan menerima
dengan lapang dada
Sesuatu yang lebih tak selamanya anteng
Berusahalah untuk
hidup secukupnya
Karna itu akan membuat
hidup engkau tentram
@fafakhafifa
Comments