Kumpulan Sajak-Sajak Resah
Aku telah menjadi angin
Yang mengusap keningmu dengan mesra
Saat kau merasa baik baik saja dan aku tidak.
Aku telah menjadi bumi
Yang rela kau injak agar segala inginmu terlaksana
Aku telah menjadi laut
Yang kedalamannya tak mampu kau ukur dengan akalmu
Berjuta kata ingin kugunakan untuk menjelaskan kerisauan ini,
Memaparkan bagaimana kondisi hati yang berperang meneguhkan diri
Aku tahu kecewa tak dapat dihindari
Kelak, semua akan berlalu hilang bagai debu.
Begitu pun dengan sikapku yang tak ubahnya
Dari mengabari atas rasa cinta berlebihan yang tersita oleh kesibukan di benakmu.
Bila diizinkan memilih,
Beri spasi agar aku mampu membenah diri dengan keadaan kini.
13 Mei 2022
Di ujung malam
Kantuk mengutuk mata yang enggan terpejam
Hati merutuki sesuatu yang mengganjal di pikiran
Dalam gulita yang panjang
Pikiran berkelana mencarimu dalam hayalan
Tanpa suara aku mengeja nama yang terus kumunajatkan
Harap hanyalah milikku
Aku ingin mengabaikan
Mengatakan padamu, pergi saja kemana engkau mau
Berpaling dariku dan menemui yang menjadi dambaanmu
Tapi senyatanya itu hanya dalam pikiran
Hatiku menolak, bersikukuh pada rasa yang sama
Sungguh setia itu melelahkan juga membingungkan
Ada ketakutan ketika masa lalu akan terulang kembali
Hati yang kosong, gejolak pikiran yang bermacam-macam prasangka
Semua seperti kesalahan tertimpa hanya padaku
Tersiksa oleh pikiran-pikiran sendiri
Dan menangisi hal-hal yang belum tentu terjadi
Seberat itukah jadi makhluk paling perasa di muka bumi ini.
18 Mei 2022
@fafakhafifa
Comments